Bus listrik Trans Semanggi melintas di depan Alun-Alun Surabaya, Jawa Timur, Selasa (20/12/2022). Bus listrik bantuan Kementerian Perhubungan (Kemenhub) tersebut mulai dioperasikan mulai 20 Desember 2022 guna menunjang transportasi umum di Surabaya. (Foto: Antara).

Warta21.com- Surabaya ditargetkan memiliki keragaman moda transportasi seperti Jakarta dalam 2–3 tahun mendatang. Salah satu yang ditargetkan segera terealisasi tahun depan adalah bus rapid transit (BRT). Realisasi proyek tersebut bakal dibantu pinjaman dari Jerman.

Direktur Angkutan Jalan Direktorat Jenderal Perhubungan Darat Kemenhub Suharto mengatakan, kemacetan menimbulkan kerugian ekonomi bagi kota-kota besar.

Surabaya Rugi Rp 12 Triliun Per-Tahun

Tidak terkecuali Surabaya yang berstatus kota dagang dan jasa. Berdasar kajian Kemenhub, Surabaya termasuk yang terbesar mengalami kerugian.

”Kajian yang sudah kami lakukan, akibat macet, Surabaya harus rugi Rp 12 triliun per tahun. Kami memulai Gerakan Nasional Kembali ke Angkutan Umum (GNKAU),’’ katanya saat meresmikan beroperasinya TSS listrik di Balai Pemuda, Selasa.

Karena alasan itu, dibutuhkan strategi jangka panjang untuk mengurai hal tersebut. Salah satunya, membangun infrastruktur transportasi yang matang. Suharto menyebut tahun depan akan memulai pra-feasibility study (FS) untuk mewujudkan bus rapid transit (BTS).

”Kami berkomitmen membantu Surabaya Raya untuk mewujudkan hal itu. Awal tahun nanti kami siapkan pra-FS. Harapannya, Februari sudah selesai,’’ katanya.

Setelah selesai, bakal dilanjutkan ke FS dengan target April bisa rampung. Baru kemudian dibuat detail engineering design (DED) bersama dengan pemerintah daerah terkait. Yakni, Surabaya, Sidoarjo, dan Gresik.

Ini adalah bentuk kerja sama Indonesia dengan Jerman. Surabaya Raya mendapat pendanaan dari itu nanti. Kalau lancar, Kemenhub dan Kemenkeu menandatangani loan agreement,’’ paparnya.

Setelah itu, realisasi BRT bisa segera diwujudkan.

”Mudah-mudahan Surabaya Raya mirip dengan Jakarta yang saat ini sudah lengkap fasilitas transportasi umumnya,’’ katanya.

Sementara itu, Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi mengaku siap bersinergi soal pengoperasian BRT. Misalnya, menyiapkan feeder sebagai angkutan tambahan. Pihaknya bakal menunggu perencanaan itu rampung.

”Seperti yang sudah disampaikan, ada dana dari Jerman sebesar Rp 3,7 triliun yang sudah disiapkan. Kami siap mendukung,’’ paparnya.

Menurut dia, yang terpenting saat ini menyediakan transportasi yang aman bagi warga. Tujuannya, mobilitas dengan kendaraan pribadi bisa ditekan. Dengan demikian, polusi pun bisa diturunkan.

Bus Listrik Ibarat Perempuan Kalem dan Santai

”Lho.. lho. lho..,’’ seluruh penumpang tampak heboh ketika bus kelir merah itu berjalan. Mulus seperti naik mobil yang didorong dan mesin mati. Tanpa deru mesin yang ngegas keras seperti bus diesel. Bus listrik yang diuji coba kemarin memberikan sensasi berbeda bagi yang kali pertama mencoba.

”Busnya seperti diam, tapi sebenarnya kami jalan. Nggak berisik. Kalau seperti Suroboyo Bus itu, meski kedap, masih kedengeran suara mesin busnya,’’ ujar Arifin, salah seorang warga yang ikut uji coba.

Selasa (20/12) siang Kementerian Perhubungan resmi mengoperasikan unit transportasi umum melalui mekanisme buy the service (BTS). Artinya, orientasi utamanya adalah kenyamanan layanan, bukan mengejar cuan seperti moda transportasi masa lalu. DAMRI cabang Surabaya ditunjuk sebagai operator utama armada tersebut.

Bus berdaya listrik itu dinamai Trans Semanggi Surabaya (TSS). Tidak seperti saudaranya yang beroperasi di koridor 1 rute Keputih–Lakarsantri. Koridor 3 rute Purabaya–Kenpark via MERR itu dilayani bus ukuran medium. Kapasitasnya 24 orang saja, 19 duduk dan 5 berdiri.

Soal kenyamanan memang lebih unggul. Minim suara. Sepanjang uji coba kemarin siang yang terdengar hanya deru fan AC. ”Kalau boleh dibilang, bus listrik ini seperti perempuan kalem dan santai,’’ ujar pengemudi TSS listrik asal Banyuwangi Sumain.

Saat berdiri pun penumpang bisa anteng. Suspensi yang empuk membuat penumpang bakal merasa nyaman meski jalanan bergelombang. Agar lebih nyaman, jarak antar-handle sudah diatur paten. Memperkecil celah penumpang nakal saat tempat duduk penuh. Tentu saja, kursi prioritas tetap disediakan untuk lansia, ibu hamil, atau orang sakit.

Sekali jalan PP Terminal Purabaya–Kenpark, daya baterai hanya berkurang 38 persen. Dengan daya total 138 kWh, bus itu bisa tiga kali PP tanpa charge. Namun, Sumain menyebut, untuk kenyamanan penumpang, sekali perjalanan pulang pergi bus langsung di-charge.

Dari segi operasional, bus listrik lebih hemat ketimbang menggunakan biosolar. Jika harga listrik per kWh Rp 1.700, biaya operasional PP bus sejauh hampir 46 kilometer adalah Rp 89.148. Jika menggunakan bus konvensional dengan biosolar, harganya hampir tiga kali lipat. Asumsinya, konsumsi dexlite Suroboyo Bus atau TSS diesel mencapai15 liter sekali PP atau Rp 280 ribu.

”Saat ini lokasi charge ada di pul DAMRI dan Terminal Purabaya. Kecepatan maksimal dibatasi 50 kilometer per jam. Lebih dari itu, ada alarm yang bunyi,’’ kata sopir yang juga bertugas di event G20 Bali itu.

Selama beroperasi di Bali hingga Surabaya, Sumain menyebut bus itu cukup bandel. Minim perawatan. Hampir tidak pernah mogok. Untuk fitur keamanan, ada 5 CCTV yang terpasang di dalam. Lalu, di depan dan belakang juga tersedia.

Soal tarif, TSS listrik mematok harga Rp 6.200 sekali naik. Pembayaran bisa melalui QRIS dan e-money. Golongan tertentu bakal menikmati tarif gratis. Yakni, lansia, veteran, dan pelajar (SD, SMP, SMA).

Sayangnya, dalam bus itu belum tersedia fasilitas bagi pengguna kursi roda. Penyandang disabilitas pun bakal menemui kendala karena harus menaiki anak tangga saat naik ke bus. Berbeda halnya dengan bus TSS koridor 1 dan Suroboyo Bus yang menyediakan akses berupa jalur yang bisa dibuka untuk menaiki bus.

Mengharapkan Angkutan Yang Anti Macet

  • Sistem transportasi di Surabaya masih tercampur dengan kendaraan pribadi sehingga waktu tempuh kurang efisien.
  • Masih perlu berpindah moda untuk menuju kawasan Surabaya Raya.
  • Transportasi yang ada belum bisa mengakomodasi warga ulang-alik yang bekerja di Surabaya.
  • Armada yang tersedia terbatas. Saat jam sibuk, jumlah armada masih kurang.
  • Pembangunan BRT diharapkan bisa mendukung perkembangan kota dan menumbuhkan perekonomian secara nasional.
  • Setelah BRT, rencana pengembangan transportasi diarahkan ke moda lain seperti LRT.

Baca Juga: Kepala Dinas DP3APPKB: “Kami Akui Kasus KDRT di Surabaya Meningkat!”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini