Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi saat dikonfirmasi di Surabaya, Selasa (2/5/2023).

Warta21.com – Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi (Cak Eri) menjelaskan antisipasi kekerasan seksual hingga pernikahan dini bagi siswa sekolah.

Menurutnya, antisipasi terhadap kasus tersebut tak bisa dilepaskan dari peran orang tua.

Sebab, keluarga memiliki peran strategis untuk memantau perkembangan anak.

“Sebenarnya, tak ada pelecehan di sekolah. Khususnya, yang ada di Surabaya. Yang terjadi selama ini adalah anak di rumah tanpa pengawasan orang tua,” kata Cak Eri, Selasa (2/5/2023).

“Misalnya, ada anak (perempuan) dolan bengi karo kanca lanang. Metu, nggak dipantau. (Ada anak perempuan pergi hingga larut malam bersama teman laki-laki. Keluar tanpa pemantauan),” tambahnya.

Kasus yang demikian berada di luar kewenangan sekolah. Sehingga, penguatan peran orang tua diperlukan.

“Kembali lagi, ini adalah orang tua. Jangan salahkan pendidikannya,” ujar Cak Eri.

“Pendidikan yang utama adalah di dalam keluarganya. Sehingga, di ajaran muslim, ada keluarga sakinah, mawadah warahmah. Yakni orang tua yang sayang anaknya, anaknya sayang orang tuanya,” jelasnya.

Tanpa adanya dukungan orang tua, antisipasi terhadap kasus tersebut mustahil dilakukan.

“Sehebat apapun pendidikan maupun gurunya, kalau orang tuanya tidak ada ikatan kasih sayang maka kasus ini akan terus terjadi,” imbuh Cak Eri.

Pihaknya pun meminta kasus pelecehan yang terjadi pada anak di Surabaya tak digeneralisir bahwa sistem pendidikan di Surabaya buruk.

“Ini tidak bisa gebyah-uyah (menyamaratakan) terhadap 3,9 juta penduduk Surabaya. Namun, kembali lagi ke karakter kebangsaan dan keagamaan,” Cak Eri menuturkan.

Beberapa kasus pelecehan seksual terhadap anak di Surabaya terjadi akhir-akhir ini. Di antaranya, rudapaksa terhadap siswi SMP berusia 15 tahun yang mengakibatkan korban hamil 5 bulan.

Dari kejadian ini, Unit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Satreskrim Polrestabes Surabaya pun telah menangkap dua tersangka. Berstatus pelajar, tersangka diketahui membujuk korban untuk keluar bersama hingga terjadi lah kasus tersebut.

Bagi Cak Eri, kasus ini menjadi contoh soal pentingnya peran keluarga. Orang tua harus memastikan anaknya berada di pergaulan yang baik.

Juga, mengetahui teman dekat hingga lokasi anak berada. Kasus pelecehan terjadi karena lemahnya pengawas orang tua.

“Metu karo koncone, dibonceng, terus dikei ngombe (Keluar bersama teman, dibonceng, kemudian dicekoki minuman keras). Baru terjadi pelecehan,” Cak Eri memaparkan.

Selain memberikan perhatian, sekolah bersama orang tua harus berkolaborasi dengan menguatkan iman dan takwa.

“Masio dikandani tapi nggak duwe karakter akhlak yang kuat (Meskipun diberikan nasehat tapi tidak punya karakter akhlak yang kuat), tanpa kedekatan orang tua, maka ini bisa terjadi,” tegasnya.

Pemkot juga akan terus melakukan penguatan melalui Pusat Pembelajaran Keluarga (Puspaga) yang ada di Balai RW.

“Seorang anak pasti nurut orang tua. Sehingga, ayo sinergi antara keluarga dan sekolah,” tandas Cak Eri.

Sumber : tribunnews.com

Baca Juga : Hardiknas, Eri Dorong Guru di Surabaya punya Inovasi

Silahkan berkomentar
Artikulli paraprakHardiknas, Eri Dorong Guru di Surabaya punya Inovasi
Artikulli tjetërMikel Arteta: Fans Arsenal, Ucapkan Terima Kasih Kepada Aubameyang!

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini