Warta21.com – Pemerintah Kota Surabaya (pemkot) menggelar lomba panahan tradisional Gladen Ageng Surabaya (GAS) dalam rangka memperingati HUT ke-78 Kemerdekaan Republik Indonesia.
Lomba panahan tradisional ini merupakan event tahunan sejak empat tahun lalu. Panahan tradisional memiliki nilai budaya dan sejarah yang kuat, oleh karena itu semua panitia dan pesertanya diwajibkan memakai pakaian adat dalam mengikuti seluruh rangkaian acara tersebut.
Pada tahun kelima ini berbeda dengan tahun-tahun sebelumnya, yang awalnya peserta hanya dari penjuru nusantara kini lebih meluas hingga ke luar negeri seperti Malaysia dan Brunei. GAS berlangsung pada 12-13 Agustus 2023 di Lapangan Mulyorejo, dan diikuti oleh 740 pemanah.
Ketua panitia GAS, Muhammad Ramadhan Rosihadi mengatakan “Dari awal terselenggara acara ini diwajibkan untuk mengenakan baju tradisional karena kami mempunyai misi supaya generasi-generasi penerus bangsa kenal dengan kebudayaan Indonesia,” ungkapnya.
Muhammad menjelaskan bahwa event ini tidak hanya berdampak untuk para pemanah tetapi di lingkungan sekitar juga baik. Karena untuk dapat mengikuti lomba ini dikenakan biaya sebesar Rp. 50.000 namun, akan kembali kepada peserta berupa voucher makan yang dapat dijajakan di booth UMKM yang tersedia.
“Kami memiliki aplikasi unggulan bernama ManahPro, aplikasi ini menjadi satu-satunya aplikasi panahan di Dunia, dalam aplikasi tersebut saat pertandingan berjalan peserta bisa langsung melihat hasilnya. Yang mana pada pertandingan-pertandingan yang tidak menggunakan aplikasi ManahPro harus menunggu setelah semua pertandingan selesai dan harus menunggu selama kurang lebih satu jam bahkan lebih untuk mengetahui hasilnya,” tambah Muhammad Ramadhan.
Terdapat empat kategori dalam pertandingan ini, yaitu U15 Mixed Bow, Barebow, Horsebow, dan Djemparing. Kategori tersebut berdasarkan tiga jenis busur. Yang pertama Djemparing adalah cara memanah sambil bersila dengan target bandul.
Kedua ada Horsebow, biasanya digunakan sambil berkuda namun pada event ini tidak menggunakan kuda hanya berdiri saja. Dan yang ketiga ada Barebow, mirip dengan Djemparing cara memanahnya, tetapi lebih modern.
Harrys Yasin Yudhanegara, salah satu pelatih peserta dari Kota Tangerang mengatakan bahwa acara ini luar biasa “Acara ini sangat menarik dan wajib didukung oleh pemerintah karena kegiatannya sangat mendidik dan juga banyak pembelajaran serta filosofi di dalam panahan tradisional,” jelas pelatih asal Kota Tangerang.
Dia juga mengungkapkan jika panahan ini sebagaimana menjalani kehidupan. “Harus punya target. Tetapi jika tidak kena target, juga tidak boleh kecewa dan harus terus berjuang karena ini semua tentang sebuah pembelajaran,” katanya.
Sumber : radarsurabaya
Baca Juga : Ngebut Tabrak Pengendara Motor Keluar Gang, ABG Meregang Nyawa di Jalan Mastrip Kedurus









