PAKAI BAJU TAHANAN: WR, pengelola dan pemilik akun Mami Elga, digelandang petugas di Mapolrestabes Surabaya kemarin (27/7). WR mengincar mahasiswi perantauan untuk ditawarkan kepada pria hidung belang (EDI SUDRAJAT/JAWA POS)

Warta21.com – WR, pengelola akun Mami Elga, merekrut mahasiswi perantauan yang kesulitan ekonomi untuk dijual kepada pria hidung belang. Mereka dijajakan ke sejumlah grup di Facebook (FB).

Untuk sekali kencan, muncikari itu mematok harga Rp 1,5 juta sampai 2 juta. Kasubnit Perlindungan Perempuan dan Anak (PPA) Polrestabes Surabaya Ipda Tri Wulandari menuturkan, WR ditangkap awal bulan lalu.

Jejaknya sebagai muncikari prostitusi online terdeteksi patroli siber. ”Saat patroli siber, kami menemukan akun yang menawarkan jasa pelayanan seksual,” katanya Kamis (27/7).

Temuan itu didalami petugas. WR kemudian terdeteksi di salah satu hotel di tengah kota. Warga Jalan Wonorejo tersebut ternyata baru saja mengantar HR, salah satu anak buahnya, melayani tamu.

”Barang bukti yang diamankan berupa ponsel, alat kontrasepsi, dan uang tunai,” jelas Wulan, sapaan akrab Tri Wulandari.

WR mematok layanan kencan kilat itu dengan harga Rp 2 juta. Dialah yang menerima uang dari pelanggan. ”Dari transaksi tersebut, tersangka meminta bagian Rp 600 ribu. Sisanya untuk anak buahnya,” ungkap Wulan.

Dalam pengembangan lebih lanjut, penyidik menemukan fakta lain. HR bukan satu-satunya perempuan yang dijual oleh WR. Pria 25 tahun itu punya dua anak buah lain yang juga dijajakan kepada pria hidung belang secara online.

Menurut Wulan, ketiga korban adalah mahasiswi di perguruan tinggi swasta. Ketiganya kuliah di kampus yang berbeda. Mereka mengenal WR dari teman lain. Oleh WR, ketiganya lantas ditawari untuk menjadi pekerja seks komersial (PSK).

WR tidak asal menawari mahasiswa itu menjadi PSK. Sebelumnya, dia mengecek terlebih dahulu kondisi ekonomi ketiganya. Apabila mereka benar-benar kesulitan ekonomi langsung direkrut. ”Hasil pemeriksaan kami, semua korban adalah perantau dari luar pulau,” ujarnya.

Wulan menambahkan, dua korban lain belum diperiksa. Sebab, posisi mereka sedang di kampung halaman. ”Namun, bukti-buktinya sudah kami dapat,” katanya.

Dalam praktiknya, tersangka mematok tarif beragam untuk tiga anak buahnya. Harganya disesuaikan dengan paras mereka. Tetapi, WR selalu meminta bagian Rp 600 ribu. ”Dia yang mengatur transaksi, termasuk pemilihan hotel,” papar Wulan.

Oleh penyidik, WR dijerat pasal berlapis. Dia disangka melanggar undang-undang tindak pidana perdagangan orang (TPPO), pornografi, dan ITE. ”Ancaman hukuman bagi tersangka 12 tahun penjara,” kata Wulan.

WR berdalih menjadi muncikari karena ingin membantu korban mendapat penghasilan. Namun, dia juga ingin mendapat bagian atas perannya. ”Mereka saya tawarkan ke Facebook,” sebutnya.

Dia membuat penawaran itu ke sejumlah grup. WR mengaku menyediakan perempuan. Orang yang berminat diminta menghubungi. Dalam komunikasi lanjutan itu, WR menunjukkan foto korban berpakaian minim sekaligus tarifnya.

Sumber : jawapos.com

Baca Juga : Gamers Asal Surabaya Chatezz Makan di Angkringan, Netizen Beri Kritik

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini