Kirab Budaya Mulyorejo Berubah Jadi Arena Adu Jotos—Warga Protes, Anak Sakit, Tradisi Malah Bikin Geram!

MALANG – Acara Festival dan Kirab Budaya yang digelar pada Minggu, 13 Juli 2025 seharusnya menjadi momen pelestarian tradisi leluhur di Kelurahan Mulyorejo, Kecamatan Sukun, Kota Malang, mendadak berubah menjadi kekacauan. Suasana yang awalnya meriah menjadi mencekam ketika insiden adu jotos pecah di tengah karnaval sound horeg, dipicu oleh protes warga terhadap kebisingan ekstrem.

Sound Horeg: Dari Hiburan Jadi Petaka

Sekitar pukul 13.00 WIB, salah satu rombongan karnaval lewat dengan suara sound horeg yang menggelegar. MA (57) dan istrinya RM (55), warga setempat, merasa terganggu karena anak mereka tengah sakit parah. RM berteriak meminta musik dikecilkan, tapi rombongan tidak mengindahkan. MA kemudian mendorong peserta yang membawa speaker besar, hingga terjadi aksi saling pukul.

Baca juga: Fatwa MUI Haramkan Sound Horeg dan Goyang Pargoy: Musik Jalanan yang Mengguncang Moral Bangsa

Warga yang merekam insiden tersebut menuliskan caption di media sosial: “Kirab budaya yang gak berbudaya! Udah tahu di kampung, kok malah bikin anak kecil tambah sakit!”

Kericuhan pun pecah. MA mengalami luka di pelipis dan dilarikan ke puskesmas. Polisi datang beberapa menit kemudian untuk menenangkan situasi dan mengamankan beberapa peserta yang terlibat keributan.

Kepala Seksi Humas Polresta Malang Kota, Ipda Yudi Risdiyanto, membenarkan bahwa pemicu utama kericuhan adalah suara sound horeg yang terlalu keras. “Salah satu warga menegur karena anaknya sedang sakit. Lalu terjadi dorongan dan pemukulan,” ujarnya.

Tertarik baca berita lainnya, kunjungi kami di googlenews

Tradisi dan Ritual Festival Budaya Mulyorejo: Warisan Bernilai yang Ternoda

Sebelum insiden mencuat, rangkaian acara Festival Budaya Mulyorejo sebenarnya menyuguhkan beragam tradisi yang kaya akan nilai lokal dan spiritual:

  • Kirab Budaya Arak-arakan peserta mengenakan kostum adat Nusantara—dari Madura, Bali, Dayak, hingga Jawa—melintasi jalur utama dengan iringan musik dan tarian. Miniatur bangunan bersejarah seperti Candi Borobudur turut diarak, menciptakan nuansa visual penuh warna.
  • Rombong Awe ke Punden Leluhur Warga mengunjungi punden Eyang Sujono dan Eyang Sariwongso, mengirim doa untuk keselamatan dan kemakmuran desa. Ritual ini biasanya dilakukan oleh sesepuh RW 06 Jalan Sedudut.
  • Pemotongan Sapi Sebagai simbol sedekah bumi, seekor sapi dikurbankan untuk dibagikan kepada masyarakat sebagai bentuk rasa syukur atas hasil panen dan harapan akan berkah tahun mendatang.
  • Pagelaran Wayang dan Campursari Ki Ardhi Poerboantono tampil memukau dengan lakon pewayangan klasik. Turut menghibur warga adalah musisi lokal seperti Niken Salindri, Cak Precil, dan Cak Kuntet yang membawakan campursari dengan sentuhan modern.
  • Kostum Ratu Nusantara Busana megah dengan hiasan etnik khas berbagai daerah Indonesia ditampilkan oleh warga muda dalam parade busana budaya.
  • Tumpengan dan Sesaji di Balai Desa Di puncak acara, tumpeng dan sesaji dibawa ke balai desa sebagai ungkapan doa dan harapan kepada Sang Pencipta.

Namun, nilai luhur di balik tradisi ini tercoreng oleh insiden yang menyudutkan makna budaya sebagai pemersatu. Ketika ritme musik terlalu menguasai ruang publik tanpa empati sosial, tradisi berubah menjadi konflik.

https://lynk.id/warta21_/Q1b9xxp

Respons Pemerintah dan Harapan Baru

Lurah Mulyorejo, Siswanto Heru Suparnadi, menyatakan bahwa insiden tersebut terjadi dalam rangkaian acara Bersih Desa Mulyorejo 2025. Ia menegaskan bahwa pihak kelurahan akan memediasi kedua belah pihak setelah acara selesai. “Kami akan pertemukan warga, panitia, dan tokoh masyarakat untuk mencari solusi damai,” katanya.

Serta pihak kelurahan akan memediasi antara warga dan panitia karnaval. “Kami tidak ingin tradisi yang bagus ini ternodai oleh insiden seperti ini,” imbuhnya.

Pelajaran dari Insiden

Peristiwa ini menjadi pengingat penting tentang perlunya regulasi suara dalam acara publik, terutama di kawasan pemukiman. Toleransi dan komunikasi antara penyelenggara acara dan warga sekitar harus diperkuat agar semangat budaya tidak berubah menjadi konflik.

Refleksi Budaya

Festival semestinya menjadi ruang membangun rasa hormat dan toleransi. Peristiwa ini menggambarkan bahwa pelestarian budaya harus disertai kebijaksanaan, bukan hanya glamor bunyi. Kita harus berani berkata bahwa kirab budaya yang gak berbudaya adalah alarm untuk introspeksi bersama.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini