warta21.com – Menjelang datangnya bulan suci Ramadan, masyarakat Jawa kembali menggelar tradisi megengan. Namun ada satu hal yang nyaris tak pernah absen dalam ritual tersebut: apem. Kue tradisional berbentuk bundar ini selalu hadir di setiap megengan, bahkan menjadi simbol utama dalam perayaan menyambut bulan puasa.

Fenomena “apem hadir di setiap megengan” kini kembali viral di media sosial. Banyak warganet membagikan foto apem buatan rumah, hingga momen doa bersama yang penuh khidmat. Tradisi ini tidak hanya menjadi ritual budaya, tetapi juga momentum refleksi spiritual dan kebersamaan sosial.

baca juga : Apem Hadir di Setiap Megengan, Ternyata Ini Makna Tersembunyi yang Bikin Tradisi Ini Tak Pernah Hilang

Apa Itu Megengan?

Megengan adalah tradisi masyarakat Jawa yang dilakukan menjelang Ramadan sebagai bentuk persiapan batin dan ungkapan syukur. Tradisi ini berkembang luas di wilayah Jawa Timur seperti Surabaya, Gresik, Lamongan, hingga Madura.

Sejumlah sejarawan mengaitkan tradisi ini dengan dakwah para Wali Songo, termasuk Sunan Ampel yang menyebarkan Islam melalui pendekatan budaya. Melalui kenduri dan pembagian makanan, nilai-nilai Islam diperkenalkan secara perlahan kepada masyarakat.

Dalam megengan, warga biasanya mengadakan doa bersama, tahlilan, serta membagikan apem kepada tetangga. Dari sinilah apem menjadi identik dengan megengan.

Mengapa Apem Selalu Hadir di Setiap Megengan?

https://assets-cloudflare.segari-ops.id/recipes/kue-apem-gula-merah-kukus-lsbc82b7hBbLK.jpg
https://img-global.cpcdn.com/recipes/dbbcdff6f7e8f77e/1200x630cq80/photo.jpg

1. Filosofi Permohonan Maaf

Kata “apem” dipercaya berasal dari bahasa Arab “afwan” yang berarti maaf. Makna ini selaras dengan semangat megengan sebagai momen saling memaafkan sebelum memasuki Ramadan.

Apem menjadi simbol pembersihan hati. Dengan membagikan apem, masyarakat berharap kesalahan di masa lalu dapat dimaafkan dan ibadah puasa dijalankan dengan hati bersih.

2. Simbol Kebersamaan

Apem tidak dimakan sendiri. Ia dibagikan kepada tetangga dan keluarga. Tradisi ini mempererat hubungan sosial dan memperkuat solidaritas masyarakat.

3. Warisan Budaya yang Terjaga

Di tengah modernisasi, apem tetap dipertahankan sebagai identitas budaya. Banyak keluarga masih membuat apem secara tradisional, menggunakan kukusan dan resep turun-temurun.

Viral di Media Sosial, Netizen: “Megengan Tanpa Apem Terasa Hampa”

Di platform X dan TikTok, tagar #ApemMegengan dan #TradisiMegengan mulai ramai menjelang Ramadan. Netizen membagikan cerita nostalgia tentang masa kecil mereka.

Beberapa komentar warganet yang viral antara lain:

“Kalau belum bikin apem, rasanya belum sah menyambut Ramadan.”
“Megengan tanpa apem itu seperti Lebaran tanpa ketupat.”
“Apem bukan cuma kue, tapi simbol doa orang tua.”

Unggahan-unggahan tersebut mendapat ribuan interaksi dan memperlihatkan betapa kuatnya ikatan emosional masyarakat terhadap tradisi ini.

Dampak Ekonomi: UMKM Apem Kebanjiran Pesanan

Tak hanya berdampak secara budaya dan spiritual, kehadiran apem di setiap megengan juga memberi efek ekonomi. Banyak pelaku UMKM mengaku pesanan apem meningkat drastis menjelang Ramadan.

Di sejumlah pasar tradisional Jawa Timur, penjualan apem meningkat dua hingga tiga kali lipat dibanding hari biasa. Beberapa penjual bahkan menerima pesanan dalam jumlah besar dari komunitas masjid dan RT/RW.

Hal ini menunjukkan bahwa tradisi megengan dan apem memiliki dampak nyata terhadap roda ekonomi lokal.

baca juga : Megengan Jadi Tradisi Viral Jelang Ramadan, Ini Makna dan Sejarah yang Bikin Netizen Tersentuh

Megengan dan Apem di Era Digital

Menariknya, generasi muda kini mengemas tradisi ini dalam format konten kreatif. Video pembuatan apem, kisah sejarah megengan, hingga vlog pembagian apem menjadi tontonan populer.

Tradisi yang dahulu hanya berlangsung di lingkup kampung, kini menjangkau audiens nasional bahkan global. Media sosial menjadi ruang baru pelestarian budaya.

Apem hadir di setiap megengan bukan sekadar kebiasaan turun-temurun. Ia adalah simbol permohonan maaf, kebersamaan, dan persiapan spiritual menjelang Ramadan.

Viralnya tradisi ini membuktikan bahwa budaya lokal tetap relevan di era digital. Dengan makna mendalam dan nilai sosial yang kuat, apem dan megengan dipastikan akan terus lestari di tengah masyarakat.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini