warta21- Tradisi megengan kembali menjadi perbincangan hangat di media sosial menjelang datangnya bulan suci Ramadan 2026. Di berbagai daerah di Jawa, khususnya Jawa Timur, tradisi megengan tak hanya menjadi ritual budaya, tetapi juga momentum kebersamaan yang penuh makna spiritual.

Tagar #Megengan dan #TradisiMegengan ramai menghiasi linimasa X (Twitter), Instagram, hingga TikTok. Banyak netizen membagikan foto apem, doa bersama, hingga momen berkumpul keluarga. Lantas, apa sebenarnya megengan dan mengapa tradisi ini kembali viral?

baca juga : Megengan Jadi Tradisi Viral Jelang Ramadan, Ini Makna dan Sejarah yang Bikin Netizen Tersentuh

Apa Itu Megengan?

Megengan adalah tradisi masyarakat Jawa yang dilakukan menjelang bulan Ramadan sebagai bentuk persiapan spiritual dan ungkapan syukur menyambut bulan puasa. Tradisi ini identik dengan pembagian kue apem kepada tetangga, doa bersama, serta silaturahmi keluarga.

Secara etimologi, kata “megengan” berasal dari bahasa Jawa “megeng” yang berarti menahan. Maknanya merujuk pada persiapan diri untuk menahan hawa nafsu selama menjalankan ibadah puasa Ramadan.

Tradisi megengan banyak ditemukan di wilayah seperti Surabaya, Gresik, Lamongan, hingga Madura. Bahkan di beberapa desa, megengan dilakukan secara kolektif di masjid atau balai desa dengan doa bersama.

Sejarah Megengan, Warisan Budaya Sejak Zaman Wali

Sejumlah budayawan menyebut tradisi megengan sudah ada sejak masa penyebaran Islam di tanah Jawa. Tradisi ini diyakini berkembang pada era para Wali Songo, salah satunya pada masa dakwah Sunan Ampel di wilayah Surabaya.

https://ik.imagekit.io/waters2021/sehataqua/uploads/megengan-adalah-20250226082403.jpg?tr=w-1600%2Ch-900%2Cq-80%2Cfo-auto%2Cf-webp
https://assets-cloudflare.segari-ops.id/recipes/kue-apem-gula-merah-kukus-lsbc82b7hBbLK.jpg
4

Para wali menggunakan pendekatan budaya untuk menyebarkan ajaran Islam, sehingga tradisi lokal seperti kenduri dan sedekah makanan dipadukan dengan nilai-nilai keislaman. Kue apem yang dibagikan dalam megengan juga memiliki filosofi tersendiri. Kata “apem” diyakini berasal dari kata Arab “afwan” yang berarti maaf.

Hal ini melambangkan permohonan maaf sebelum memasuki bulan Ramadan, agar ibadah dijalankan dengan hati bersih.

baca juga : Solopreneur Jadi Pilihan Baru, Cara Bangun Bisnis Mandiri dengan Modal dan Risiko Terukur

Mengapa Megengan Viral di Media Sosial?

Fenomena viralnya megengan tak lepas dari meningkatnya kesadaran generasi muda terhadap tradisi lokal. Banyak konten kreator membagikan suasana megengan dalam format vlog, storytelling, hingga video sinematik bernuansa religi.

Beberapa netizen menuliskan komentar seperti:

“Megengan selalu bikin kangen suasana kampung sebelum Ramadan.”
“Tradisi sederhana tapi penuh makna, semoga tetap lestari.”
“Apem megengan rasanya beda, ada doa orang tua di dalamnya.”

Unggahan-unggahan tersebut mendapat ribuan likes dan dibagikan ulang, menjadikan tradisi megengan sebagai topik trending menjelang Ramadan.

Makna Megengan yang Relevan di Era Modern

Di tengah gaya hidup modern yang serba cepat, tradisi megengan justru menghadirkan nilai perlambatan (slow living). Ada pesan untuk berhenti sejenak, merefleksikan diri, dan mempererat hubungan sosial.

Megengan mengajarkan tiga nilai utama:

1. Refleksi Diri

Sebelum memasuki Ramadan, umat Muslim diajak membersihkan hati dan saling memaafkan.

2. Solidaritas Sosial

Pembagian apem dan doa bersama menjadi simbol berbagi rezeki dan mempererat hubungan antarwarga.

3. Pelestarian Budaya

Megengan menjadi bukti bahwa tradisi lokal tetap hidup dan relevan di tengah arus globalisasi.

Budayawan menilai tradisi seperti megengan penting untuk menjaga identitas budaya sekaligus memperkuat nilai religius masyarakat.

Megengan dan Dampak Ekonomi Lokal

Menariknya, viralnya megengan juga berdampak pada pelaku UMKM. Permintaan kue apem meningkat signifikan menjelang Ramadan. Banyak pedagang mengaku omzetnya naik dua hingga tiga kali lipat dibanding hari biasa.

Fenomena ini menunjukkan bahwa tradisi budaya tidak hanya memiliki nilai spiritual, tetapi juga potensi ekonomi yang nyata bagi masyarakat.

Megengan bukan sekadar tradisi membagikan kue apem. Ia adalah simbol persiapan spiritual, penguatan silaturahmi, dan pelestarian budaya Jawa menjelang Ramadan.

Di era digital, megengan justru menemukan panggung baru melalui media sosial. Viralitasnya membuktikan bahwa tradisi lokal tetap memiliki tempat di hati generasi muda.

Dengan makna mendalam dan nilai kebersamaan yang kuat, megengan diprediksi akan terus lestari dan menjadi identitas budaya yang membanggakan.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini