“Spurs vs Newcastle: bukan sekadar skor, tapi panggung perpisahan sang legenda Korea di rumah sendiri.”
Seoul, 3 Agustus 2025 — Di tengah sorak sorai 64.000 penonton di Seoul World Cup Stadium, laga uji coba antara Tottenham Hotspur dan Newcastle United berakhir imbang 1-1. Namun, skor bukanlah pusat perhatian malam itu. Semua mata tertuju pada satu sosok: Son Heung-min, kapten Spurs, yang memainkan laga terakhirnya sebelum hijrah ke LA Galaxy.
Tertarik baca berita lainnya, kunjungi kami di googlenews
Laga yang Dibuka Cepat, Ditutup Emosional
Tottenham langsung tancap gas. Baru empat menit berjalan, Brennan Johnson melepaskan sepakan keras dari luar kotak penalti yang tak mampu dibendung Nick Pope. Johnson bahkan merayakan golnya dengan gestur khas Son—sebuah tribut kecil untuk sang kapten yang akan pergi.
Newcastle tak tinggal diam. Di menit ke-38, Harvey Barnes menyamakan kedudukan lewat tusukan tajam dan tembakan ke tiang dekat. Babak kedua berlangsung intens, namun tak ada gol tambahan.
Baca Juga: Vlahovic Cetak Gol, Juventus Ditahan Reggiana: Pramusim atau Praludesaster?
Son Heung-min: Perpisahan di Tanah Air
Son tampil sebagai starter dan mengenakan ban kapten. Di menit ke-65, ia ditarik keluar dan digantikan oleh Mohammed Kudus. Saat berjalan ke pinggir lapangan, air mata mengalir di wajahnya. Tepuk tangan bergemuruh dari tribun, pelukan dari rekan setim dan lawan, serta guard of honour menjadi penutup babak terakhirnya bersama Spurs.

“Dari Seoul ke LA: Son Heung-min menutup satu dekade bersama Spurs dengan air mata dan tepuk tangan. Kini, bab baru menanti di MLS”
Son telah mengonfirmasi kepindahannya ke LA Galaxy, dengan nilai transfer yang diperkirakan mencapai £15 juta. Ia menyebut keputusan ini sebagai “yang paling sulit dalam kariernya,” namun merasa perlu tantangan baru dan lingkungan yang bisa mendukung persiapan menuju Piala Dunia terakhirnya.
https://lynk.id/warta21_/Q1b9xxp
Dampak Kepindahan Son bagi Spurs
– Kehilangan figur sentral: Son mencetak 173 gol dan 101 assist dalam 454 laga untuk Spurs.
– Kekosongan emosional: Ia bukan sekadar pencetak gol, tapi simbol loyalitas dan semangat Asia di Premier League.
– Tantangan bagi pelatih baru Thomas Frank: Membangun ulang lini serang tanpa ikon klub.









