“Konflik dunia semakin meluas, meski tidak berkaitan. Belum selesai konflik di Timur Tengah, kini di Tenggara Asia menyalakan api peperangan. Di antara aroma durian dan diplomasi ASEAN, roket-roket mulai bicara lebih lantang dari pidato perdamaian.”

Bangkok, 25 Juli 2025 — Ketegangan lama antara Thailand dan Kamboja kembali meledak dalam bentuk bentrokan bersenjata di wilayah perbatasan, menewaskan sedikitnya 12 orang, termasuk seorang anak dan satu tentara Thailand. Serangan artileri dan roket dari pasukan Kamboja menghantam wilayah Surin, Sisaket, dan Ubon Ratchathani, memicu evakuasi lebih dari 40.000 warga sipil dari 86 desa.

Tertarik baca berita lainnya, kunjungi kami di googlenews

Asal Muasal Konflik

Konflik ini berakar dari sengketa wilayah yang belum selesai sejak era kolonial Prancis. Peta tahun 1907 yang digunakan untuk memetakan perbatasan menempatkan Kuil Preah Vihear di wilayah Kamboja, namun Thailand menolak klaim atas area sekitarnya. Ketegangan kembali meningkat sejak Februari 2025, ketika pasukan Kamboja menyanyikan lagu kebangsaan di kuil sengketa Ta Muen Thom, memicu protes diplomatik dari Thailand.

Pada 28 Mei, seorang tentara Kamboja tewas dalam baku tembak di kawasan Emerald Triangle, titik pertemuan tiga negara: Thailand, Kamboja, dan Laos. Sejak itu, kedua negara saling tuding sebagai pemicu konflik dan memperkuat militer di sepanjang 817 km garis perbatasan.

Baca Juga: Dari Seragam Loreng ke Seragam Asing: Satria Kumbara, Eks Marinir RI yang Kini Menangis di Medan Perang Ukraina

Puncak Eskalasi: 24 Juli 2025

  • Pukul 07.35 pagi, pasukan Thailand mendeteksi drone Kamboja di wilayah sengketa.
  • Enam tentara Kamboja mendekat dengan senjata berat, termasuk peluncur roket.
  • Thailand mengklaim telah memperingatkan, namun pasukan Kamboja menembak lebih dulu.
  • Thailand membalas dengan serangan udara F-16, menghancurkan dua target militer di Kamboja.
  • Roket Kamboja menghantam SPBU di Sisaket, menewaskan enam warga sipil.
  • Satu anak berusia 5 tahun tewas di Surin akibat ledakan artileri.

Bagaimana Menurut Mereka?

  • Somsak Thepsuthin, Menteri Kesehatan Thailand:
    “Penembakan terhadap rumah warga dan rumah sakit adalah kejahatan perang. Kami akan melindungi rakyat kami dari tindakan tidak manusiawi.”
  • Hun Manet, Perdana Menteri Kamboja:
    “Kami selalu memilih jalan damai, namun kali ini kami tidak punya pilihan selain membalas agresi bersenjata Thailand.”
  • Phumtham Wechayachai, PM Thailand (Plt):
    “Kami akan bertindak sesuai hukum internasional. Tidak ada deklarasi perang, namun kami tidak akan diam jika kedaulatan kami dilanggar.”
  • Anwar Ibrahim, PM Malaysia dan Ketua ASEAN:
    “Thailand dan Kamboja harus menahan diri. ASEAN tidak bisa menjadi penonton ketika anggotanya saling menembak.”

https://lynk.id/warta21_/Q1b9xxp

Dampak Regional dan Diplomatik

  • Thailand menutup seluruh pos perbatasan dengan Kamboja.
  • Kedua negara saling mengusir duta besar.
  • Kamboja meminta Sidang Darurat Dewan Keamanan PBB.
  • China menyatakan “keprihatinan mendalam” dan menyerukan dialog.

Diplomasi ASEAN, Seperti Payung di Tengah Badai

Di tengah dentuman roket dan pidato perdamaian, ASEAN tetap percaya bahwa duduk bersama bisa menyelesaikan konflik. Tapi ketika kursi konferensi lebih empuk dari bunker warga sipil, mungkin sudah waktunya bertanya:
“Apakah diplomasi kita hanya dekorasi, sementara rakyat jadi korban narasi?”

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini