Dokter spesialis kedokteran fisik dan rehabilitasi RS Paru Rotinsulu dr. Sitti Nurun Nikmah mengatakan, terdapat sejumlah cara bagi pasien dengan penyakit paru obstruktif kronis (PPOK) untuk membersihkan paru-paru secara mandiri.
Tertarik baca berita lainya,kunjungi kami di googlenews
Tidak perlu ke dokter. Bahkan hanya menggunakan latihan teknik pernafasan.
Dua kondisi medis yang paling umum terjadi dan termasuk ke dalam jenis PPOK adalah bronkitis kronis serta emfisema.
baca juga : Wali Kota Eri: RSUD Surabaya Timur wujud pemerataan pelayanan kesehatan
Dr Sitti menjelaskan, dengan latihan pernafasan, otot-otot saluran menjadi baik. Sehingga ventilasi oksigen dan karbon dioksida pasien bagus.
Dengan demikian, secara tidak langsung pengeluaran dahak menjadi lebih baik.
baca juga : Badan Kesehatan AS Beberkan Proses Penularan Virus Nipah dari Hewan ke Manusia
“Mengapa kita harus latih latihan pernafasan diafragma? Karena otot diafragma itu otot inspirasi utama. Otot yang bekerja saat kita nafas itu yang utama. Dengan kita memperkuat otot diaphragma, otomatis kemampuan batuknya juga jadi lebih baik,” kata Nikmah, dikutip dari Antara.
Menurut Nikmah, latihan teknik pernafasan dapat dikombinasikan tergantung kebutuhan pasien, misalnya teknik nafas terkontrol dan teknik nafas dalam.
Dengan berlatih teknik bernafas dalam-dalam dapat meningkatkan volume udara yang masuk atau inspirasi, dan teknik bernafas terkontrol dapat memperbaiki pola pernafasan.
“Lalu baru latihan batuk. Huffing, dikumpulkan dahaknya, lalu coughing, dibatukkan,” katanya.
Dia menambahkan, dalam pelatihan tersebut dapat diberitahukan mengenai drainase postural, yaitu cara mengeluarkan dahak dengan bantuan gravitasi.
Sebagai contoh apabila dahak ada di lobus superior paru kanan, maka posisi kepala harus lebih rendah, misalnya dengan posisi Trendelenburg.
Setelah pasien diposisikan, dapat dibantu dikeluarkan dahaknya melalui sejumlah cara, contohnya teknik perkusi atau vibrasi, tergantung kondisi pasien.
“Kalau misalnya pasiennya otot dadanya besar dan dia cenderung lebih kuat, kita bisa lakukan clapping, dengan perkusi. Atau misalnya pada bayi, kalau bayi tidak mungkin kita tepuk-tepuk dengan kuat, jadi kita cukup vibrasi saja,” katanya.
Selain latihan teknik bernafas, juga dapat diberikan latihan kebugaran jantung dan paru, agar otot-otot kedua organ tersebut tetap bugar, guna mendukung aktivitas dan pergerakan.
Dokter spesialis paru dr. Nina Eristiana menjelaskan, bahwa pada orang normal, iritan dan kuman yang menyerang paru akan dibungkus dengan mukus atau dahak, kemudian dikeluarkan melalui batuk.
baca juga : Majukan RK pada Pilkada Jakarta Usai Anies-Ahok Muncul,Golkar di Ambang Dilema
Namun, ujarnya, orang-orang dengan PPOK, seperti bronchiectasis atau fibrosis paru, terutama yang pernah tuberkulosis, struktur paru-parunya rusak.
Sehingga saat terinfeksi maka memproduksi banyak dahak. Oleh karena itu, mereka perlu diajarkan cara batuk yang efektif.
“Setelah di poli rehab, itu diajarkan bagaimana caranya mereka di rumah mempraktekkan. Karena obat-obatan itu sendiri hanya membantu mengencerkan dahak,” kata Nina.
dikutip dari merdeka.com









![💉 Fenomena Klinis Baru: Waspada Asam Urat Mengintai Remaja 17 Tahun – Penyebab Gaya Hidup Modern dan Gejala Awal yang Terabaikan Oleh: [FM Kesehatan Warta21] [Tanggal Penerbitan, 9 Desember 2025]](https://warta21.com/wp-content/uploads/2025/12/WARTA21_ASAM-URAT-100x75.png)