Warta21.com, SURABAYA- Kasus Melonjak, Surabaya Siapkan RS Lapangan Tembak

Situasi pandemi Covid-19 di Surabaya, Jawa Timur, memburuk dan berpeluang terjadi lonjakan jumlah pasien sehingga diperlukan penyiapan kembali fasilitas isolasi misalnya Rumah Sakit Lapangan Tembak di Kedung Cowek.

Pemerintah Kota Surabaya, Jawa Timur, menyiapkan kembali Rumah Sakit Lapangan Tembak untuk mengantisipasi lonjakan pasien Covid-19. Kasus terus meningkat signifikan dari hari ke hari sehingga perlu diantisipasi dengan penyiapan sarana atau fasilitas perawatan.

RS darurat di Kedung Cowek itu pernah dimanfaatkan Satuan Tugas Penanganan Covid-19 Surabaya untuk isolasi pasien kurun 12 Juli-10 Agustus 2021.

Ketika itu, situasi pandemi Covid-19 memburuk terkait serangan varian Delta yang amat menular dan berdampak fatal. Saat itu, penambahan kasus harian di Surabaya tembus 1.000 kasus, kematian tembus 100 jiwa.

Tiga pekan terakhir atau sejak pertengahan Januari 2022, mulai terjadi peningkatan kasus yang signifikan di Indonesia, termasuk Surabaya. Setengah bulan pada awal tahun ini, penambahan kasus harian kurang dari 10 orang sehingga kasus aktif atau jumlah pasien dirawat kurang dari 50 orang.

Namun, dari laman resmi https://infocovid19.jatimprov.go.id/ dan https://lawancovid-19.surabaya.go.id/, penambahan harian sepekan terakhir berturut-turut 128 kasus, 330 kasus, 269 kasus, 597 kasus, 683 kasus, 891 kasus, dan 971 kasus.

Lapangan Tembak berkapasitas 1.000 tempat tidur, fasilitas sudah setara rumah sakit dengan dilengkapi instalasi gawat darurat, rawat inap, radiologi, farmasi, dan laboratorium.

Jumlah kasus aktif sampai dengan Minggu (6/2/2022) petang tercatat 1.418 pasien. Jumlah itu belum mencapai puncak yang sesuai catatan Kompas situasi terburuk terjadi pada 23 Juli 2021. Ketika itu, terjadi ledakan kasus atau gelombang kedua di mana kasus aktif di Surabaya 11.689 orang. Banyak pasien tidak tertampung di seluruh jaringan RS, termasuk RS darurat dan lapangan.

Kala itu, Surabaya memfungsikan gedung olahraga di kompleks Stasiun Gelora Bung Tomo sebagai tempat isolasi. Selain itu, balai RT, RW, kelurahan, dan gedung-gedung sosial juga difungsikan untuk isolasi mandiri pasien Covid-19 dari lingkungan terdekat yang tidak mendapatkan tempat di rumah sakit atau fasilitas yang telah disediakan.

Jumlah kasus aktif sampai dengan Minggu (6/2/2022) petang tercatat 1.418 pasien. Jumlah itu belum mencapai puncak yang sesuai catatan Kompas situasi terburuk terjadi pada 23 Juli 2021. Ketika itu, terjadi ledakan kasus atau gelombang kedua di mana kasus aktif di Surabaya 11.689 orang. Banyak pasien tidak tertampung di seluruh jaringan RS, termasuk RS darurat dan lapangan.

Kala itu, Surabaya memfungsikan gedung olahraga di kompleks Stasiun Gelora Bung Tomo sebagai tempat isolasi. Selain itu, balai RT, RW, kelurahan, dan gedung-gedung sosial juga difungsikan untuk isolasi mandiri pasien Covid-19 dari lingkungan terdekat yang tidak mendapatkan tempat di rumah sakit atau fasilitas yang telah disediakan.

”Lapangan Tembak berkapasitas 1.000 tempat tidur, fasilitas sudah setara rumah sakit dengan dilengkapi instalasi gawat darurat, rawat inap, radiologi, farmasi, dan laboratorium,” kata Wali Kota Surabaya Eri Cahyadi.

Eri melanjutkan, tempat atau fasilitas yang disewa Surabaya untuk isolasi pasien Covid-19 adalah sebagian gedung di Asrama Haji Sukolilo yang kemudian dinamakan Hotel Asrama Haji (HAH). Perbaikan dan renovasi Gedung Shofa dan Zam Zam di HAH telah selesai dan sedang digunakan untuk isolasi pasien. Perbaikan ditempuh setelah ada keluhan dari pasien Covid-19 yang menjalani isolasi di HAH karena sejumlah sarana kurang memadai, misalnya penyejuk udara dan lift mati, furnitur tidak bersih, serta kamar-kamar kurang resik dan tidak nyaman.

Pelaksana Tugas Kepala Badan Penanggulangan Bencana Surabaya Ridwan Mubarun menambahkan, dari laman https://lawancovid-19.surabaya.go.id/, situasi terkini keterisian HAH dapat diketahui. Sampai pada Minggu petang, di Gedung Zam Zam terisi 195 dipan sedangkan yang kosong 84 dipan. Di Gedung Shofa terisi 8 dipan dan masih kosong 75 dipan. Untuk Hall E1 terisi 4 tempat tidur tetapi yang kosong 142 tempat tidur. Di Hall E2 terisi 3 tempat tidur dan yang masih kosong 114 tempat tidur.

”Situasi keterisian Hotel Asrama Haji fluktuatif karena setiap hari ada yang datang tetapi juga ada yang pergi sebab sudah dinyatakan sembuh. Namun, jika kedatangan terus lebih besar daripada kepergian, tingkat keterisian bisa cepat penuh,” kata Ridwan.

Melihat dari pergerakan peningkatan kasus tiga pekan terakhir, diperlukan kembali mengaktifkan RS darurat untuk menampung pasien Covid-19.

PEMERINTAH KOTA SURABAYA
Aparatur terpadu menyiapkan kembali Rumah Sakit Lapangan Tembak di Kedung Cowek, Surabaya, Jawa Timur, Minggu (6/2/2022), untuk mengantisipasi lonjakan pasien Covid-19. Situasi pandemi Covid-19 di Surabaya memburuk di mana peningkatan kasus harian semakin signifikan.

Secara terpisah, Kepala Dinas Kesehatan Nanik Sukristina mengatakan tetap menggencarkan program vaksinasi dengan harapan menekan laju penularan. Sampai saat ini, di Surabaya sudah diberikan vaksinasi dosis 3 atau penguat untuk 251.063 orang atau 11,3 persen dari jumlah sasaran. Adapun, untuk vaksinasi dosis 2 sudah diberikan kepada hampir 2,458 juta jiwa atau cakupannya 110,8 persen dari jumlah sasaran.

Menurut Nanik, vaksinasi menjadi penting untuk segera diberikan agar menekan risiko fatalitas atau kematian seseorang yang terserang Covid-19 untuk pertama kali atau reinfeksi. ”Vaksinasi bukan membuat kebal karena kasus-kasus yang ada menjangkiti mereka yang sudah vaksin, tetapi menekan risiko kematian,” katanya.

Nanik melanjutkan, disiplin protokol kesehatan amat penting untuk tetap dilaksanakan oleh seluruh masyarakat Surabaya. Protokol sederhana, yakni berpelindung atau bermasker saat beraktivitas, rutin menjaga kebersihan diri dengan mencuci tangan, menjaga jarak dengan orang lain ketika beraktivitas di luar rumah, menahan diri untuk bermobilitas kecuali kepentingan mendesak dan utama, serta tidak menimbulkan kerumunan karena potensial penularan Covid-19.

Warga Surabaya harus mulai bersiap terkena pengetatan mobilitas. Dari laman https://vaksin.kemkes.go.id/, dalam kategori asesmen atau penilaian situasi, di Surabaya transmisi atau penularan komunitas berada dalam tingkat 3 atau 77,4 per 100.000 penduduk per minggu.

Jumlah pasien rawat inap di RS dalam tingkat 2 atau 9,9 per 100.000 penduduk per minggu. Untuk kematian masih di tingkat 1 atau 0,03 per 100.000 penduduk per minggu. Semakin rendah angka tingkatan, situasi pandemi masih terkendali. Yang perlu diwaspadai, penularan komunitas sudah berada di tingkat 3 atau optimal sehingga menimbulkan tantangan dalam penanganan dan pengendalian.

Baca Juga: Polemik Hasil Tes PCR Antara PT LIB & Persebaya

sumber: kompas.com

Silahkan berkomentar
Artikulli paraprakLowongan Kerja Digital Printing
Artikulli tjetërIndra Kenz Laporkan Korban Aplikasi Binomo Ke Polisi

1 KOMENTAR

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini