Abolisi dan Amnesti: Tiket Emas dari Sang Sutradara

Dalam babak terbaru sinetron politik Indonesia, Presiden Prabowo Subianto membagikan dua tiket emas: abolisi untuk Tom Lembong dan amnesti untuk Hasto Kristiyanto. Seolah-olah hukum adalah panggung, dan pengampunan adalah plot twist yang ditulis oleh penulis skenario politik.

Di panggung republik bernama Indonesia, dua babak absurd baru saja dimainkan. Prabowo Subianto, Presiden dan koreografer politik yang makin matang, mengeluarkan dua keputusan monumental: abolisi untuk Tom Lembong dan amnesti untuk Hasto Kristiyanto. Ini bukan sekadar kebijakan, tapi skenario penuh twist ala penulis drama yang lihai membolak-balik hukum dan moral demi pementasan politik besar.

Tertarik baca berita lainnya, kunjungi kami di googlenews

Tom Lembong, terjerat kasus impor gula yang membuatnya harus menyantap hukuman 4,5 tahun, kini bebas bak burung lepas dari sangkar, berkat abolisi. Sementara Hasto, yang namanya tenggelam dan timbul dalam misteri suap Harun Masiku, menerima penghapusan dosa melalui amnesti. Dua keputusan yang datang dari langit kekuasaan—atau mungkin dari ruang perundingan strategis menjelang HUT RI ke-80.

“Ini bukan intervensi politik, ini konstitusi bekerja,” ujar Yusril Ihza Mahendra dengan gaya legalistik yang khas.

“Kalau abolisi dan amnesti jadi rutinitas, kita perlu redefinisi hukum,” timpal seorang pengamat dari BRIN.

Baca Juga: Berpulangnya Surya Dharma Ali: Jejak Pengabdian dan Doa Perpisahan

Namun tak semua tokoh bungkam atau berbicara normatif. Beberapa justru melontarkan absurditas yang menggigit:

Hotman Paris: “WA sana sini, lingkaran Prabowo minta Tom dibebaskan. Saya cuma bilang: hukum itu elastis, tergantung siapa yang menarik.”

Fadli Zon: “Kalau abolisi dan amnesti jadi alat politik, kita sedang main catur pakai pion-pion yang sudah dicetak ulang.”

Rocky Gerung: “Ini bukan pengampunan, ini penghilangan jejak. Negara sedang bermain silat lidah.”

Titiek Soeharto: “Menurut ngana?”—dan itu sudah cukup menggambarkan keadaan.

Kedua nama, Tom dan Hasto, seolah menjadi simbol dari bagaimana politik bisa mencairkan hukum seperti es batu dalam kopi panas. Publik terbelah: ada yang melihat ini sebagai rekonsiliasi elegan, yang lain mengendus aroma barter politik. Tapi di ruang absurd, kita tak lagi bicara tentang benar atau salah, melainkan tentang siapa yang memegang pena untuk menulis ulang naskah.

https://lynk.id/warta21_/G8l5KwK

Apakah ini bentuk keberanian? Atau sebuah bentuk pengelabuan kolektif demi stabilitas yang dipentaskan?

Epilog yang Menggelitik

Di negeri ini, hukum menari bersama kuasa, dan pengampunan bisa jadi pertunjukan. Kita tak lagi menonton dari kursi penonton, tapi terseret masuk sebagai figuran dalam drama tak berkesudahan. Dan Prabowo? Ia bukan hanya Presiden—ia adalah sutradara yang tahu kapan harus mengangkat tirai dan kapan menurunkan lampu sorot, bahkan penjual tiket untuk pertunjukan berikutnya.

TINGGALKAN KOMENTAR

Silakan masukkan komentar anda!
Silakan masukkan nama Anda di sini