Jakarta, Juli 2025 — Setelah hampir enam bulan menghilang dari radar digital, Agung Hapsah, YouTuber dengan gaya sinematik yang menggugah, kembali hadir dan langsung membuat kehebohan. Karyanya tak pernah biasa—dan comeback kali ini pun bukan sekadar upload vlog, melainkan sebuah visual diary di balik layar film “Sore: Istri dari Masa Depan”, yang kini sedang digandrungi di bioskop Indonesia.
Dari Ujung Pandang ke Lensa Dunia
Agung memulai perjalanan digitalnya sejak usia 11 tahun. Mengunggah ulasan film, tutorial editing, dan insight kreatif, ia dengan cepat menarik perhatian berkat teknik sinematografi yang tajam dan storytelling yang soulful. Video-videonya bukan cuma ditonton—mereka dirasakan.
Tertarik baca berita lainnya, kunjungi kami di googlenews
Namun, Agung juga punya kebiasaan menarik: hiatus. Ia sempat absen dua tahun penuh tanpa satu pun konten, memunculkan aura misterius dan rasa kangen dari penggemarnya. Meski comeback-nya belakangan sering dikemas lewat video iklan, hasil editing-nya tetap dinilai punya nilai artistik tinggi. Ia bahkan membuka kelas berbayar untuk berbagi ilmu editing dan sinematografi pada publik.
Di Balik Layar “Sore”: Lensa yang Bicara Jujur
Dalam video behind the scene film “Sore”, Agung menyorot perjuangan kru produksi berburu aurora di Finlandia—sebuah tantangan teknis dan emosional. Momen-momen intim antara Ringgo Agus dan Nirina Zubir, shot-shot candid, hingga suasana syuting yang personal disampaikan dengan gaya yang hanya dimiliki Agung: reflektif, subtil, dan menggugah. Tapi yang paling mencuri hati justru interaksi santai dan hangat dari Ringgo Agus Rahman dan Nirina Zubir yang ikut hadir sebagai “tim hore”.
Baca Juga: Identitas Visual Kemerdekaan: Presiden Prabowo Luncurkan Tema dan Logo Resmi HUT ke-80 RI Hari Ini
Momen candid mereka—dari bercanda sambil ngopi, diskusi soal script di bawah langit Finlandia, hingga ikut bantu lighting—memberikan sentuhan personal pada proses produksi. Agung menangkap interaksi itu dengan framing yang intim dan sinematik, menjadikan video bukan sekadar dokumenter, tapi potret kebersamaan sebuah tim kreatif.
Multi Talenta: Dari Editing ke Musik
Tak hanya sebagai visual storyteller, Agung juga terjun di dunia musik. Di bawah nama panggung EEVNXX, ia merilis sejumlah lagu yang beraliran alternatif sinematik. Ia juga menggarap video klip untuk band indie Reality Club, menggabungkan nuansa urban dengan atmosfer sinematik yang khas.
https://lynk.id/warta21_/G8l5KwK
Agung Hapsah bukan sekadar kreator, ia adalah representasi zaman: generasi yang tumbuh bersama kamera, tenggelam dalam pencarian makna, dan kembali dengan pesan visual yang jujur. Di era konten cepat saji, karyanya jadi ruang hening di tengah kebisingan. Dan jika setiap frame-nya adalah puisi, maka comeback kali ini adalah bait baru yang ditulis dengan cahaya Finlandia dan semangat Indonesia.









